MAKNA "AL
BIRR"
Al Birr yaitu
kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam artinya :
"Al Birr adalah baiknya akhlaq".
(Diriwayatkan
oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).
Al Birr
merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al‘Uquuq yaitu
kejelekan dan menyia-nyiakan haq..
Al Birr
adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan
kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al‘Uquuq dan menjauhi
mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.
(Disebutkan
dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)
Urwah
bin Zubair berkata: tentang firman Allah
Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya :
"Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan."
(QS. Al Isra’ :
24).
Yaitu:
"Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun".
(Ad-Darul
Mantsur 5/259)
Imam Al Qurtubi
berkat: "Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/
menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah,
sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi
keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya
memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara
maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah
pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara
yang mandub (disukai/ disunnahkan).
(Al Jami’ Li
Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).
Syaikhul Islam
Ibn Taimiyyah berkata: Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir
"Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka
dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali".
(Ghadzaul Al Baab
1/382).
HUKUM BIRRUL
WALIDAIN
Para Ulama’
Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya
adalah wajib.
Ibnu Hazm
berkata: "Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing
individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra.
Al Qodli Iyyad
berkata: "Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang
haram."
(Ghdzaul Al Baab 1/382)
Dalil-dalil
Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali, diantaranya:
"Sembahlah
Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak".
(An
Nisa’ : 36).
Dalam
ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah
disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk
beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak
didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini.
(Al
Adaabusy Syar’iyyah 1/434).
"Dan
Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya".
(QS.
Al Isra’: 23).
Adapun
makna (qadhoo) menurut :
Ibnu
Katsir: yakni, mewasiatkan.
Al
Qurthubiy: yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan.
Asy
Syaukaniy: "Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua
seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini
pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu
urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak
bersembunyi lagi (perintahnya).
(Fathul
Qodiir 3/218).
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
yang artinya:
"Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya,
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya
dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu,
hanya kepada-Ku-lah kembalimu".
(QS.
Luqman : 14).
Ibnu
Abbas mengatakan: "Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana
tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, dalam firman Allah Subhanahu Wa
Ta’ala diantaranya:
"Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu"
Maka,
barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada
kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu".
(Al
Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).
Berkaitan
dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda yang artinya:
"Keridhaan
Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada
kemurkaan orang tua"
(Riwayat
Tirmidzi dalam Jami’nya (1/346) Hadits
ini Shohih, dalam Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).
Hadits Al Mughirah bin Syu’bah, dari
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda yang artinya:
"Sesungguhnya
Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak
perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah
membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata
begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak
bermanfaat), dan membuang-buang harta".
(Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).
KEUTAMAAN BIRRUL
WALIDAIN
Pertama: Termasuk
Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah
bin Mas’ud berkata :
Saya bertanya
kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling
dicintai oleh Allah?,
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: "Sholat tepat pada waktunya",
Kemudian apa
lagi?,
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: "Berbuat baik kepada kedua orang
tua".
Lalu apa lagi?,
Maka, Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Berjihad di jalan Allah".
(Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).
Kedua:
Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa.
Allah Subhanahu
Wa Ta’ala berfirman yang artinya:
"Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….",
hingga akhir
ayat berikutnya : "Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka
amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan
mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah
dijanjikan kepada mereka".
(QS. Al Ahqaf
15-16)
Diriwayatkan oleh
ibnu Umar, bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wasallam dan berkata:
Wahai Rasulullah
sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu
taubat bagi saya?,
Maka Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Apakah Ibumu masih hidup?", dia
berkata : tidak.
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Kalau bibimu masih ada?"
dia berkata :
"Ya"
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Berbuat baiklah padanya".
(Diriwayatkan oleh
Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth: Perawi-perawinya tsiqoh.
Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Dalam Jaami’ul Ushul (1/ 406).
Ketiga:
Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga
Dari Abu
Hurairah, berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda:
"Celakalah
dia, celakalah dia",
Sahabat bertanya
:
Siapa wahai Rasulullah?
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda: "Orang yang menjumpai salah satu
atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga".
(Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).
Dari Mu’awiyah
bin Jaahimah, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam kemudian berkata:
"Wahai
Rasulullah, saya ingin berangkat untuk berperang, dan saya datang ke sini untuk
minta nasehat kepada engkau ya Rasulullah.
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
"Apakah
kamu masih memiliki Ibu?".
Dia berkata :
"Ya".
Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Tetaplah dengannya karena
sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya".
(Hadits Hasan
diriwayatkan oleh Nasa’I dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini
Shohih. Dalam Shahihul Jaami No. 1248)
Keempat:
Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaimana
hadits yang artinya: "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua
dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".
Kelima:
Merupakan Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya hadit
yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda: "Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan
Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim".
Keenam :
Merupakan Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya,
sebagaimana hadits "Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan
kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua".
ADAB BIRRUL
WAALIDAIN
Kedua orang tua
adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam Al-Qur'an
agar berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyebutkannya berbarengan dengan
pentauhidan-Nya Azza wa Jalla dan memerintahkan para hamba-Nya untuk
melaksanakannya sebagaimana akan disebutkan kemudian.
Hak kedua orang
tua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Di sini
akan dicantumkan beberapa adab yang berkaitan dengan masalah ini. Antara lain
hak yang wajib dilakukan semasa kedua orang tua hidup dan setelah meninggal.
Dengan
pertolongan Allah, saya akan mencoba menyebutkan beberapa adab tersebut,
diantaranya:
HAK-HAK YANG
WAJIB DILAKSANAKAN SEMASA ORANG TUA MASIH HIDUP
Di antara hak
orang tua ketika masih hidup adalah:
Mentaati
Mereka Selama Tidak Mendurhakai Allah
Mentaati
kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai
keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali
apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.
Allah
Subhanahu wa TA'ala berfirman:
"Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..."
(QS.
Luqman: 15)
Tidak
boleh mentaati makhluk untuk mendurhakai Allah, Penciptanya, sebagaimana sabda
Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Tidak
ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam
melakukan kebaikan" (HR. Bukhari no. 4340, 7145, 7257, dan Muslim no.
1840, dari Ali radhiyallahu 'anhu).
Adapun
jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati kedua orang tua
selamanya dan ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu,
seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua
orang tua.
Berbakti
dan Merendahkan Diri di Hadapan Kedua Orang Tua
Allah
Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
"Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu
bapaknya..."
(QS.
Al-Ahqaaf: 15)
"Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang tua ibu bapak..."
(QS.
An-Nisaa': 36)
Perintah
berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan
lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan
perhatian dari anaknya.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan
Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan
penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”
(QS.
Al-Israa': 23-24)
Di
dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh
merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang
tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak
dapat memasukkannya ke dalam Surga"
(HR.
Muslim no. 2551, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Di
antara berbakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan
yang dapat menyakiti hati kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan
ucapan 'ah'. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka
ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai
Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Merendahkan
Diri Di Hadapan Keduanya
Tidak
boleh mengeraskan suara melebihi suara kedua orang tua atau di hadapan mereka
berdua. Tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar mendahului
mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan
mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, janganlah mendului
makan dan minum, dan lain sebagainya.
Berbicara
Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
Berbicara
dengan lembut merupakan kesempurnaan bakti kepada kedua orang tua dan
merendahkan diri di hadapan mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang artinya:
"...Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".
(QS.
Al-Israa': 23)
Oleh
karena itu, berbicaralah kepada mereka berdua dengan ucapan yang lemah lembut
dan baik serta dengan lafazh yang bagus.
Menyediakan
Makanan Untuk Mereka
Menyediakan
makanan juga termasuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika ia memberi
mereka makan dari hasil jerih payah sendiri. Jadi, sepantasnya disediakan untuk
mereka makanan dan minuman terbaik dan lebih mendahulukan mereka berdua.
Meminta
Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan Lainnya
Izin
kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang
laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya:
"Ya,
Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad?"
Beliau
balik bertanya: "Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?"
Laki-laki
itu menjawab: "Masih."
Kemudian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berjihadlah (dengan
cara berbakti) kepada keduanya"
(HR. Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim
no. 2549, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
Seorang
laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata:
"Aku datang membai'atmu untuk hijrah dan tinggalkan kedua orang tuaku menangisi
(kepergianku). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Pulanglah dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuat
mereka menangis"
(HR. Abu Dawud no. 2528, an-Nasa-i, VII/143, Ibnu Majah
no. 2782, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu. Dalam kitab Shahiih Abi Dawud no.
2205)
Seorang
laki-laki hijrah dari negeri Yaman lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bertanya kepadanya:
"Apakah
kamu masih mempunyai kerabat di Yaman?"
Laki-laki
itu menjawab: "Masih, yaitu kedua orang tuaku".
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam kembali bertanya: "Apakah mereka berdua
mengizinkanmu?"
Laki-laki
itu menjawab: "Tidak."
Lalu,
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kembalilah kamu kepada
mereka dan mintalah izin dari mereka. Jika mereka mengizinkan, maka kamu boleh
ikut berjihad, namun jika tidak, maka berbaktilah kepada keduanya".
(HR.
Ahmad, III/76; Abu Dawud no. 2530; al-Hakim, II/103, 103, dan ia
menshahihkannya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu.
Lihat kitab Shahihh Abu Dawud no.2207)
Seorang
laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Aku
membai'at anda untuk berhijrah dan berjihad semata-mata hanya mengharapkan
pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada laki-laki tersebut:
"Apakah
salah satu kedua orang tuamu masih hidup?"
Laki-laki
itu menjawab: "Masih, bahkan keduanya masih hidup."
Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bertanya: "Apakah kamu ingin
mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala?"
Lakilaki
itu menjawab: "Ya"
Kemudian,
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kembalilah kamu kepada kedua
orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya".
(HR.
Muslim no. 2549, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
Memberikan
Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika
ia berkata: "Ayahku ingin mengambil hartaku."
Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kamu dan hartamu milik ayahmu".
(HR. Ahmad, II/204, Abu Dawud no. 3530, dan Ibnu Majah no. 2292, dari Ibnu 'AMr
radhiyallahu 'anhu. Hadits ini tertera dalam kitab Shahiihul Jaami no. 1486)
Oleh
sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang
yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan lemah,
serta telah berbuat baik kepadanya.
Membuat
Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang Dicintai Mereka
Hendaknya
seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik kepada para
saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni, dengan
memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, menunaikan
janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti beberapa hadits
yang berkaitan dengan masalah ini.
Memenuhi
Sumpah Kedua Orang Tua
Apabila
kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu yang di
dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk
memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.
Tidak
Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang Lain
Mencela
orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa
besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Termasuk dosa
besar adalah seseorang mencela orang tuanya."
Para
Sahabat bertanya: "Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang
tuanya?"
Beliau
menjawab: "Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas
mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela
ibunya".
(HR.
Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
Perbuatan
ini merupakan perbuatan dosa yang paling buruk. Orang-orang sering bergurau dan
bercanda dengan melakukan perbuatan yang sangat tercela ini. Biasanya perbuatan
ini muncul dari orang-orang rendahan dan hina. Perbuatan seperti ini termasuk
dosa besar.
Mendahulukan
Berbakti Kepada Ibu Daripada Ayah
Seorang
laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?"
Beliau
menjawab: "Ibumu."
Laki-laki
itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?"
Beliau
kembali menjawab: "Ibumu."
Laki-laki
itu kembali bertanya: "Lalu siapa lagi?"
Beliau
kembali menjawab: "Ibumu."
Lalu
siapa lagi?" tanyanya. "Ayahmu," jawab beliau."
(HR.
Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Hadits
di atas tidak bermaksud lebih mentaati ibu daripada ayah. Sebab, mentaati ayah
lebih didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dibolehkan
dalam syari'at. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan untuk taat pada suaminya,
yaitu ayah anaknya. Hanya saja, jika salah seorang dari mereka menyuruh berbuat
taat dan yang lain menyuruh berbuat maksiat, maka wajib untuk mentaati yang
pertama.
Maksud
lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu, yaitu lebih bersikap lemah-lembut,
lebih berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah.
Hal ini apabila keduanya berada di atas kebenaran. Sebagian salaf berkata:
"Hak ayah lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi."
Demikian
penjelasan umum hak-hak orang tua semasa mereka masih hidup.
HAK-HAK ORANG
TUA SETELAH MEREKA MENINGGAL DUNIA
Di antara hak
orang tua setelah mereka meninggal adalah:
Menshalati Keduanya
Maksud
menshalati di sini adalah mendo'akan keduanya. Yakni, setelah keduanya
meninggal dunia, karena ini termasuk bakti kepada mereka.
Oleh
karena itu, seorang anak hendaknya lebih sering mendo'akan kedua orang tuanya
setelah mereka meninggal daripada ketika masih hidup. Apabila anak itu
mendo'akan keduanya, niscaya kebaikan mereka berdua akan semakin bertambah,
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
"Apabila
manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo'akan dirinya"
(HR.
Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Beristighfar Untuk Mereka Berdua
Orang
tua adalah orang yang paling utama bagi seorang Muslim untuk dido'akan agar
Allah mengampuni mereka karena kebaikan mereka karena kebaikan mereka yang
besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam
Al-Qur'an:
"Ya,
Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku..."
(QS.
Ibrahim: 41)
Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
Hendaknya
seseorang menunaikan wasiat kedua orang tua dan melanjutkan secara
berkesinambungan amalan-amalan kebaikan yang dahulu pernah dilakukan keduanya.
Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amalan kebaikan
yang dulu pernah dilakukan dilanjutkan oleh anak mereka.
Memuliakan Teman Kedua Orang Tua
Memuliakan
teman kedua orang tua juga termasuk berbuat baik pada orang tua, sebagaimana
yang telah disebutkan. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu pernah berpapasan dengan
seorang Arab Badui di jalan menuju Makkah. Kemudian, Ibnu Umar mengucapkan
salam kepadanya dan mempersilakannya naik ke atas keledai yang ia tunggangi.
Selanjutnya, ia juga memberikan sorbannya yang ia pakai. Ibnu Dinar berkata:
"Semoga Allah memuliakanmu. Mereka itu orang Arab Badui dan mereka sudah biasa
berjalan." Ibnu Umar berkata: "Sungguh dulu ayahnya teman Umar bin
al-Khaththab dan aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak yang
menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya
tersebut meninggal".
(HR.
Muslin no. 2552 dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu)
Menyambung Tali Silaturahim
Dengan Kerabat Ibu dan Ayah
Hendaknya
seseorang menyambung tali silaturahim dengan semua kerabat yang silsilah
keturunannya bersambung dengan ayah dan ibu, seperti paman dari pihak ayah dan
ibu, bibi dari pihak ayah dan ibu, kakek, nenek, dan anak-anak mereka semua.
Bagi yang melakukannya, berarti ia telah menyambung tali silaturahim kedua
orang tuanya dan telah berbakti kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits yang
telah disebutkan dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Barang
siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya, maka
sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal"
(HR.
Ibnu Hibban no. 433 dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Hadits ini tertera dalam
kitab Shahiihul Jaami' no. 5960)
Demikianlah
akhir dari adab berbakti kepada kedua orang tua yang telah dimudahkan Allah
kepada saya untuk menuliskannya, jika ada kekurangan dan salah dalam
pengetikan, saya mohon maaf dan mohon kritik serta sarannya, mudah-mudahan
tulisan bermanfaat terutama bagi saya yang menulis dan kalau boleh untuk kita
semua. Amiin Walhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin.
Referensi:
Shahiih Muslim (IV/1974) dan halaman setelahnya, Fathul Baari (X/414) dan
halaman setelahnya, al-Ihsan bi Tattiibi Shahiih Ibni Hibban (I/315) dan
halaman setelahnya, al-Aadaab karya al-Baihaqi (hlm.5) dan halaman setelahnya, al-Aadaab
asy-Syar'iyyah karya Ibnu Muflih (I/433) dan halaman setelahnya, Ihyaa'
Uluumuddin karya al-Ghazali (II/216) dan halaman setelahnya, Birrul Waalidain
karya ath-Thurthusi, 'Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada (terjemahan Abu
Hamzah Yusuf Al Atsari, 2009) halaman 1-13 dan lain-lain.
Dikutip
langsung dari Ensiklopedi Adab Islam Menurut AL-Qur'an dan As- Sunnah, Jilid I,
karya Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, terbitan Pustaka Imam
Asy-Syafi'i, cetakan pertama Agustus 2007, hlm. 171-179), Abdul 'Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada (terjemahan Abu
Hamzah Yusuf Al Atsari, 2009) halaman 1-13 dan dari Sumber:
salafy.or.id, islamhouse.com.
Banda Aceh, 29 Juli 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar